Dewasa ini, sektor industri Indonesia telah memasuki era baru— era dimana efisiensi energi bukan hanya sekadar pilihan, namun telah menjadi suatu tuntutan dan tantangan bagi para pelaku industri. Fenomena ini bermula dari munculnya agenda global yang digerakkan oleh United Nations, yang berjudul Sustainability Development Goals (SDG) pada tahun 2015 lalu, di mana salah satu poin dalam agenda ini adalah untuk mencapai Energi Bersih dan Terjangkau (SDG no. 7).
Merespon dari agenda tersebut, Negara Indonesia juga turut andil dalam pencapaian target efisiensi energi global ini. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), Pemerintah Indonesia menargetkan untuk mengurangi peran energi minyak bumi sebesar 22,4%—26,3% dan peran energi batu bara sebesar 40,7%—41,6% di tahun 2030 dalam skala nasional. Disamping itu, dalam pasal 67 PP No. 40/2025 juga menyebutkan bahwa Pemerintah Indonesia juga memberikan insentif bagi penyedia energi dan pengguna energi dalam kegiatan penyediaan, pengusahaan, pemanfaatan, dan pengembangan Energi Baru, Energi Terbarukan, dan Energi Tak Terbarukan. Hal ini menunjukkan bahwa penetapan peraturan ini menjadi tantangan sekaligus menjadi peluang baru bagi sektor industri indonesia untuk melakukan efisiensi energi non-terbarukan dan meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) di masing-masing sektornya.
Dalam penerapannya, pelaku industri perlu merencanakan strategi yang baik dalam pencapaian efisiensi energi tersebut. Salah satu inisiatif yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan energi buang (atau waste energy) sehingga memaksimalkan energi yang dihasilkan dari proses industri atau pabrik. Satu dari energi buang yang dapat dimanfaatkan adalah energi panas buang atau waste heat, yang dapat digunakan kembali dengan heat recovery system. Penggunaan Heat Exchanger dalam sistem heat recovery sudah sering diterapkan di beberapa industri termasuk industri minyak kelapa sawit (palm oil), Chemical Industry, Oil dan Gas, serta Industri Perkapalan.. Namun beberapa pabrik dan Industri masih belum menerapkan sistem heat recovery dengan baik.
1️⃣ Mengapa Heat Exchanger Menjadi Solusi Efisiensi Energi
Kegunaan utama dari Heat Exchanger yaitu sebagai perpindahan panas dari medium satu ke medium lainnya dengan metode konveksi dan konduksi. Adapun beberapa keuntungan dari penggunaan heat exchanger diantaranya:
- Penurunan penggunaan steam hingga 25–30%. Dalam suatu proses yang menggunakan steam sebagai medium fluidanya, heat exchanger dapat memindahkan panas secara efisien sehingga penggunaan steam dapat berkurang;
- Mengurangi beban boiler dan konsumsi bahan bakar. Perpindahan panas yang efisien dari heat exchanger dapat mengurangi kebutuhan konsumsi bahan bakar dari proses boiler sehingga mengurangi beban kerja boiler tersebut;
- Mempercepat pemanasan proses. Desain dari heat exchanger dimana perpindahan panas yang terjadi antara 2 fluida secara konveksi dan konduksi pada permukaan perpindahan panas yang besar dapat mengefisiensikan proses perpindahan panas tersebut. Sehingga, suhu capaian dari fluida produk yang diinginkan didapatkan lebih cepat bila dibandingkan dengan pemanasan secara elektrik atau bahan bakar;
- Mengurangi emisi CO₂. Pengurangan beban boiler dan pemanas lainnya secara tidak langsung dapat mengurangi beban bahan bakar yang digunakan dan berpengaruh terhadap pengurangan emsi CO₂ dalam proses anda.
Dengan kata lain, penggunaan heat exchanger dalam proses suatu pabrik dan industri tidak hanya meningkatkan efisiensi proses perpindahan panas suatu pabrik, namun juga memberikan kontribusi nyata terhadap ekonomi hijau nasional.
2️⃣ Studi Kasus Singkat: Industri Biodiesel di Sumatera
Salah satu pelanggan kami yang bergerak dalam bidang biodiesel telah menggunakan Plate Heat Exchanger untuk project heat recovery pada proses pemanasan Refined Palm Oil (RPO). Tujuan awal dari project klien kami adalah untuk mengurangi penggunaan steam dalam pemanasan RPO tersebut. Dengan menggunakan PHE tipe HG 0222 kami, klien kami mendapatkan hasil yang signifikan terhadap proses pemanasan RPO nya. Beberapa hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:
- Eliminasi penggunaan steam hingga 100%. Dengan PHE tipe HG 0222 yang terinstalasi di pemanasan RPO, klien kami tidak hanya dapat mengurangi penggunaan steam secara parsial, namun dapat mengeliminasi penggunaan steam tersebut. Hal ini dicapai dengan menggunakan energi panas dari hasil pemanasan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai media heat exchangenya. Sehingga, penggunaan steam dalam proses pemanasan ini dapat tereleminasi.
- ROI tercapai dalam 6 bulan. Dengan berkurangnya penggunaan steam dalam pemanasan BPO, klien kami dapat mencapai target bisnisnya. Adapun target ROI klien kami tercapai dalam 6 bulan (bila dihitung dengan rasio antara efisiensi penggunaan steam terhadap biaya konstruksi dan pembelian PHE)
Dari kasus klien kami, tidak hanya pemanfaatan heat recovery oleh heat exchanger sebagai peningkatan efisiensi energi, namun juga sebagai keunggulan kompetitif untuk mencapai kebutuhan bisnis dari klien kami.
3️⃣ Kaitan dengan SDG dan Program Pemerintah
Dengan penggunaan Heat Exchanger dalam suatu pabrik dan industri, industri dapat langsung mendukung Sustainable Development Program dengan rincian sebagai berikut:
- SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau. hal ini dapat dicapai melalui pemanfaatan energi panas buang yang dihasilkan dari proses industri anda untuk dimanfaatkan kembali sebagai proses pemanasan untuk produk pabrik anda dan tercipta penggunaan energi panas yang lebih efisien.
- SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain pengoptimalan pemindahan panas, heat exchanger juga dapat sebagai sistem heat recovery yang memanfaatkan energi panas buang untuk proses pemanasan pabrik anda.
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Dengan pengurangan emisi karbon dari proses pemanasan Boiler atau Elektrikal lainnya, heat exchanger dapat membantu untuk mencapai Net Zero Emission untuk pabrik anda.
Disamping itu, dengan adanya program insentif oleh Pemerintah Indonesia, Pabrik dan Sektor Industri indonesia dapat memanfaatkan heat exchanger sebagai salah satu proyek untuk pencapaian bisnis dan industri berkelanjutan (sustainable business) yang diharapkan tercapai pada tahun 2060 oleh Pemerintah Indonesia.
Closing:
Dengan adanya inisiatif dari Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission, efisiensi energi bukan lagi hanya sekadar penghematan — tapi bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. Dengan penggunaan heat exchanger yang efisien dan layanan lokal yang cepat, industri Indonesia bisa melangkah lebih hemat, hijau, dan kompetitif.
📩 Ingin tahu bagaimana sistem heat recovery dapat diterapkan di pabrik Anda?
Hubungi kami di info@rekuvindo.com untuk konsultasi teknis atau permintaan penawaran.
Konsultasi Sistem Heat Recovery Pabrik
Diskusikan implementasi efisiensi energi dan sistem penukar panas di pabrik Anda bersama tim engineer PT Rekuvindo Perdana.
